Blog Gw
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Skripsi Keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kumpulan Skripsi Keperawatan. Tampilkan semua postingan

PENGARUH PENGGUNAAN MEDIA BANTU VCD DAN MODUL TERHADAP TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU POSTPARTUM DI BANGSAL ANGGREK 2 RSUP DR. SARDJITO

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Angka Kematian Ibu berguna untuk menggambarkan status gizi dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan kesehatan terutama untuk ibu hamil, melahirkan dan masa nifas (Permata, 2002). Derajat kesehatan penduduk secara optimal dapat pula diukur dengan indikator antara lain angka
kematian ibu, angka kematian bayi, dan tingkat kesuburan penduduk yang sangat erat kaitannya dengan pelayanan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) dan KB (Keluarga Berencana) (Ambarwati, 2006).
Berdasarkan data WHO (1999) sekitar 80 % kematian maternal merupakan akibat meningkatnya komplikasi selama kehamilan, persalinan dan setelah melahirkan (Yulianto, 2004). Di dunia, setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi terkait dengan kehamilan dan persalinan. Di Indonesia, dua orang ibu meninggal setiap jam karena kehamilan, persalinan dan nifas (Universitas Indonesia, 2005). Berdasarkan SKRT (2003), Angka Kematian Ibu (AKI) Indonesia mencapai 307/ 100.000 kelahiran hidup, hal ini berbeda sekali dengan Singapura yang berhasil menekan angka kematian ibu menjadi 6 per seratus ribu kelahiran hidup saja (Depkes, 1998). Data lain menyebutkan bahwa AKI di Indonesia masih relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan negaranegara anggota ASEAN. Risiko kematian ibu karena melahirkan di  Indonesia adalah 1 dari 65, sedangkan di Thailand menunjukkan angka 1 dari 1.100 (Bappenas, 2007).
Dalam menanggulangi hal tersebut, berbagai usaha untuk menurunkan AKI telah dilakukan, diantaranya: 1) Program safe motherhood (1998); 2) Gerakan Sayang Ibu (1996); 3) Gerakan Nasional Kehamilan yang Aman/ Making Pragnancy Saver (MPS) dan 4) Kerjasama POGI, IDAI, IDI, dan Depkes 2002 oleh yayasan Bina Pustaka yang menerbitkan Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Berbagai program itu telah dilaksanakan akan tetapi pada kenyataannya AKI baru bisa diturunkan menjadi 307/ 100.000 pada tahun 2003. Perkembangan selanjutnya menunjukkan bahwa angka tersebut
mengalami penurunan lagi menjadi 290,8 per seratus ribu kelahiran hidup pada tahun 2005 (Jakir, 2006).
Pada tahun 2003 angka kematian ibu di Yogyakarta mencapai 110/100.000 kelahiran hidup. Data yang tercatat dari Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta bahwa kematian maternal tahun 2004 di Yogyakarta terdapat 33 kasus yaitu Kotamadya Yogyakarta 5 kasus, Bantul 8 kasus, Kulonprogo 4 kasus,
Gunungkidul 4 kasus dan Sleman 12 kasus (Purwantiningsih, 2006). Data tersebut semakin menguatkan perlunya penanganan serius bagi kematian maternal. Berbagai faktor penyebab tingginya AKI seringkali dijumpai secara bersamaan dan tumpang tindih. Salah satu faktor yang menyebabkan AKI masih tinggi diantaranya adalah mutu pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan ini berkaitan langsung dengan  penanganan kasus AKI yang dinamakan trias terlambat, diantaranya:
1. Terlambat deteksi bahaya dini selama kehamilan, persalinan dan nifas, serta dalam mengambil keputusan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan ibu dan neonatal.
2. Terlambat merujuk ke fasilitas kesehatan karena kondisi geografis dan sulitnya trasportasi.
3. Terlambat mendapatkan pelayanan kesehatan yang memadai di tempat rujukan.

Telah diketahui bahwa 3 penyebab utama kematian ibu di bidang obstetri adalah perdarahan 45%, infeksi 15 % dan hipertensi dalam kehamilan 13 % (SKRT 1995). Sejalan dengan data tersebut, kebanyakan kematian maternal terjadi 3 hari sehabis melahirkan karena terserang infeksi. Oleh karena itu, baik ibu, keluarga maupun tenaga kesehatan perlu belajar hal-hal yang berkaitan dengan komplikasi postpartum ini (Roeshadi, 2006).
WHO telah merekomendasikan program Making Pregnancy Safer yang salah satu fokus penanganannya pada pencegahan perdarahan postpartum. Perdarahan postpartum ini adalah penyebab utama kematian maternal. Tidak kurang seperempat dari seluruh kematian maternal disebabkan oleh perdarahan (WHO,
2006). Di negara berkembang, perempuan cenderung lebih mendapat perawatan antenatal atau perawatan sebelum melahirkan dibandingkan mendapat perawatan kebidanan yang seharusnya diterima selama persalinan dan pasca persalinan. Nyatanya, lebih dari separuh jumlah seluruh kematian ibu terjadi dalam waktu 24 jam setelah melahirkan, sebagian besar karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Perdarahan hebat adalah penyebab paling utama dari kematian ibu di seluruh dunia. Sebenarnya perdarahan postpartum dini seringkali dapat ditangani
dengan perawatan dasar, namun keterlambatan dapat mengakibatkan komplikasi lebih lanjut sehingga memerlukan pelayanan yang komperhensif. Pencegahan, diagnosis dan penanganan pada jam-jam pertama sangatlah penting untuk mengatasi perdarahan. Disamping itu risiko-risiko lain seperti infeksi dan komplikasi juga dapat mengancam jiwa (Shane, 2002). Periode postpartum merupakan masa untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis. Serta salah satu masa untuk mengadopsi peran ibu (Bobak et al, 2004). Mengingat pentingnya adaptasi pada masa ini maka perawat diharapkan bisa memberi kontribusi dengan menyediakan pelayanan keperawatan yang mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan pada ibu postpartum ini. Salah satu cara yang bisa dilakukan perawat adalah dengan mengoptimalkan fungsinya
sebagai edukator dengan memberikan pengetahuan tentang perawatan ibu dan bayi kepada ibu postpartum. Permasalahan ibu postpartum ini sebetulnya bisa dicegah, salah satunya dengan memberikan penyuluhan yang berkesinambungan pada ibu postpartum. Kurangnya pengetahuan ibu postpartum tentang perawatan
ibu dan bayi, dapat ditopang dengan meningkatkan pemahaman tenaga kesehatan khususnya perawat dan bidan tentang asuhan keperawatan ibu postpartum. Menurut hasil wawancara yang dilakukan peneliti terhadap perawat dan bidan di bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada tanggal 30 April 2007 bahwa program pelatihan ibu postpartum jarang dilaksanakan dan tidak dilakukan secara berkesinambungan karena jumlah perawat yang tidak memadai dan beban kerja yang ada. RSUP Dr. Sardjito sebetulnya pernah mengadakan program pelatihan yang melibatkan ibu postpartum yaitu program pelatihan breast care. Akan tetapi program tersebut sudah tidak dilaksanakan sejak tiga tahun yang lalu.

B. Rumusan Masalah
Berdasar uraian di atas diketahui bahwa kesadaran perawat/bidan mengenai risiko kematian pada ibu postpartum sudah ada, namun hal itu belum diimbangi dengan tingkat pengetahuan yang cukup tentang asuhan keperawatan postpartum.
Pelatihan dengan menggunakan media bantu VCD dan modul merupakan salah satu jenis media pengajaran yang banyak digemari saat ini. Penelitian tentang efek penggunaan media audiovisual pernah dilakukan.
Namun penelitian kali ini lebih mendalami tentang penerapan pelatihan menggunakan media bantu VCD dan modul. Diharapkan dengan penelitian ini akan memberikan pengetahuan praktis kepada perawat/bidan dan dunia kesehatan pada khususnya. Dengan informasi praktis yang dapat diterapkan dengan baik akan menghasilkan suatu kesadaran bahwa dengan pelatihan ini dapat meningkatkan skor pengetahuan perawat/bidan yang berguna bagi pelayanan keperawatan. Adapun rumusan masalah yang dapat diambil dari latar belakang masalah tersebut adalah: Apakah pelatihan dengan menggunakan media bantu VCD dan modul dapat meningkatkan skor pengetahuan perawat tentang asuhan keperawatan pada ibu postpartum di Bangsal Anggrek 2 RSUP Dr. Sardjito.
Selengkapnya 



Read More..

PERSEPSI IBU TERHADAP ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Setiap orang tua akan mengharapkan anaknya tumbuh menjadi orang – orang yang sukses di bidangnya. Orang tua selalu memiliki berbagai harapan pada anak – anaknya untuk menjadi orang “ besar “ di kemudian hari. Untuk menuju ke sana tentu saja tidak semudah diucapkan dan bisa ditempuh dengan cara yang sederhana. Ibu yang baik yang menginginkan anaknya sehat akan memberikan apa yang terbaik untuk bayinya. Air susu ibu ( ASI ) merupakan makanan yang paling baik untuk bayi. Menyusui adalah suatu cara yang tidak ada duanya dalam memberikan makanan yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat serta mempunyai pengaruh biologis dan kejiwaan yang unik terhadap kesehatan ibu dan bayi.(1,2).
Studi ilmiah telah membuktikan bahwa bayi dapat tumbuh lebih sehat dan cerdas dengan pemberian air susu ibu ( ASI ) secara eksklusif pada 4 – 6 bulan pertama kehidupannya. Orang tua tidak perlu lagi memberikan makanan tambahan lain pada usia ini, karena ASI merupakan makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi. ASI mengandung unsur – unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. WHO dan UNICEF merekomendasikan menyusui sejak lahir sampai 6 bulan pertama, dan meneruskannya bersama pendamping ASI yang cukup sampai usia 2 tahun atau lebih ( 2 ).
Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa gangguan pertumbuhan pada awal masa kehidupan Balita antara lain disebabkan karena kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan, pemberian makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) terlalu dini atau terlalu terlambat, MP – ASI tidak cukup mengandung energi dan zat gizi mikro terutama mineral dan Zinc, perawatan bayi yang kurang memadai, dan ibu tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada bayinya ( 3 ). Salah satu kendala yang dihadapi saat ini adalah kesulitan dalam upaya pemantauan ASI eksklusif, karena belum mempunyai sistem yang diandalkan.
Untuk mengetahui tingkat pencapaian dalam pemberian ASI eksklusif dilakukan melalui laporan dari  Puskesmas yang diperoleh dari wawancara waktu kunjungan bayi ke Puskesmas. Hasil yang diperoleh berdasarkan data dari profil kabupaten Jawa Tengah pada tahun 2004 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif mencapai rata – rata 20,18 %. Ini masih jauh dari harapan, karena rata – rata yang ditargetkan adalah 80 %. Data ini menunjukkan bahwa masih banyak ibu yang berhenti menyusui bayinya sebelum usia 4 – 6 bulan ( 4 ).
Jumlah ibu menyusui di Puskesmas Kagok Semarang pada bulan September 2006 sebanyak 392 orang. Dari 392 orang ini, tidak semuanya memberikan ASI eksklusif. Hanya 254 orang ( 65 % ) yang memberikan ASI eksklusif, padahal dari pihak Puskesmas sendiri telah mempunyai program untuk menggalakkan program ASI eksklusif. Salah satu program yang dijalankan adalah dengan memberikan konseling kepada ibu hamil pada saat kunjungan ke Puskesmas dan Posyandu. Masih rendahnya keberhasilan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh berbagai alasan sosial, ekonomi, budaya, termasuk kurangnya pemahaman tentang
ASI eksklusif. Dengan dikenalnya teknologi modern dan diserapnya gaya hidup baru, makna yang melekat dalam praktek kebiasaan menyusui telah menunjukkan penurunan yang nyata dalam masyarakat ( 5 ).
Sebagai petugas kesehatan, perawat mempunyai peran yang penting dalam upaya meningkatkan angka keberhasilan menyusui secara eksklusif, yaitu dengan memberikan dukungan yang aktif selama kehamilan dan setelah melahirkan, dengan cara memberikan penyuluhan yang benar tentang manajemen laktasi sejak
ANC yang meliputi: keunggulan ASI, kerugian susu formula, gizi ibu hamil yang menjamin lancarnya produksi ASI, cara perawatan payudara, dan cara menyusui yang benar. Di kamar persalinan perawat dapat merangsang puting susu untuk memacu refleks prolaktin dan oksitosin yang dibutuhkan dalam menyusui.
Meskipun ASI belum keluar, perawat harus mempertahankan kontak fisik bayi dengan ibu, karena dapat memberikan rasa kepuasan psikologis yang dibutuhkan ibu agar proses menyusui berjalan lancar. Selain itu perawat juga harus dapat memperagakan pengetahuan praktis dalam penatalaksanaan menyusui ( 5, 6 ).
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian mengenai persepsi ibu tentang ASI eksklusif.

B. Perumusan Masalah
Sekarang ini masih ditemui ibu – ibu yang belum memberikan ASI secara eksklusif pada bayi mereka, masih ada ibu yang memberikan makanan tambahan sebelum bayi berumur 6 bulan. Pada usia ini bayi cukup diberi ASI saja, karena ASI merupakan makanan ideal untuk bayi. ASI mengandung semua zat gizi untuk pertumbuhan dan penyediaan energi, kekebalan, meningkatkan kecerdasan, dan dapat meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi. Perilaku yang ditampilkan oleh seseorang dilatarbelakangi oleh berbagai
faktor. Demikian pula dengan perilaku ibu yang menghentikan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kurangnya pemahaman ibu tentang ASI eksklusif.
Selengkapnya 


Read More..

PERBEDAAN PENURUNAN INTENSITAS NYERI SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM PADA KLIEN POST BEDAH MAYOR DI RSUD XXX



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pembedahan merupakan suatu tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka dan menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani. Pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan setelah bagian yang akan ditangani ditampilkan, dilakukan tindakan perbaikan yang diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidayat & Win, 2005). Secara garis besar pembedahan dibedakan menjadi dua yaitu bedah minor dan bedah mayor (Mansjoer, 2000). Bedah mayor adalah tindakan bedah besar yang menggunakan anastesi umum/general anastesi (Mansjoer, 2000), yang merupakan salah satu bentuk dari pembedahan yang sering dilakukan (Sjamsuhidayat & Win, 2005).
 Setiap pembedahan termasuk bedah mayor selalu berhubungan dengan adanya insisi (sayatan) yang merupakan trauma atau kekerasan bagi penderita yang menimbulkan berbagai keluhan dan gejala dimana salah satu keluhan yang sering dikemukakan adalah nyeri (Sjamsuhidayat & Win, 2005).  Hal ini sesuai dengan  hasil penelitian Enie Novieastari yang menyatakan bahwa sebanyak 80% pasien mengeluh nyeri baik nyeri sedang atau nyeri berat pada post bedah. Nyeri setelah pembedahan merupakan hal yang normal, namun meskipun demikian nyeri merupakan salah satu keluhan yang paling ditakuti oleh klien post bedah. Sensasi nyeri mulai terasa sebelum kesadaran klien kembali penuh yang semakin meningkat seiring dengan berkura ngnya pengaruh. Bentuk nyeri yang dialami oleh klien post bedah mayor adalah nyeri akut yang terjadi karena adanya luka insisi bekas pembedahan (Perry & Potter, 2006).
Nyeri akut yang dirasakan oleh klien Post bedah mayor merupakan penyebab stress, Frustasi dan gelisah yang mengakibatkan klien mengalami gangguan tidur, cemas, tidak nafsu makan dan ekspresi tengang (Perry & Potter, 2006). Selain hal itu Nyeri post bedah juga dapat menimbulkan peningkatan laju metabolisme dan curah jantung, kerusakan respon insulin, peningkatan prodiksi kortisol, dan retensi cairan (Brunner & Suddart, 2002). Namun sayangnya belum banyak yang diketahui dan belum dikelola dengan baik, padahal perawat memiliki lebih banyak kesempatan dibandingkan tenaga kesehatan lain untuk membantu menghilangkan nyeri dan efeknya yang membahayakan (Brunner & Suddart, 2002).
Perawat dengan menggunakan pengetahuannya dapat mengatasi masalah nyeri post bedah baik secara mandiri maupun secara kolaboratif dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan farmakologi dan pendekatan non farmakologi. Pendekatan farmakologi merupakan pendekatan kolaborasi antara dokter dengan perawat yang menekankan pada pemberian obat yang mampu menghilangkan sensasi nyeri. Sedangkan pendekatan non farmakologi merupakan pendekatan untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan teknik manajemen nyeri yang meliputi: stimulus dan massage kutaneus, terapi es dan panas, stimulasi syaraf eliktris transkutan, distraksi, imajinasi terbimbing, hipnotis dan teknik relaksasi napas dalam (Brunner & Suddart, 2002).
Teknik relaksasi napas dalam merupakan intervensi mandiri keperawatan dimana perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Burnner & Suddart, 2002).
Berdasarkan data kegiatan Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Tugurejo Semarang pada bulan januari 2006 di dapatkan data jumlah tindakan medik sebesar 229 kasus dengan kasus bedah mayor sebesar 89 kasus dengan rata-rata 3 kasus perhari. Pada bulan Februari sebesar 207 kasus dimana tindakan bedah mayor sebesar 89 kasus denan rata-rata perhari 4 kasus sedangkan untuk bulan Maret sebeser 228 kasus dimana untuk bedah mayor sebesar 99 kasus dengan rata-rata perhari 4 kasus. Berdasarkan observasi pendahuluan di RSUD  Tugurejo Semarang diketahui bahwa sebagian besar (92%) klien post bedah mayor mengeluh nyeri dan tidak tahu bagaimana cara untuk mengurangi nyeri tersebut (Recam Medik,RSUD Tugurejo Semarang).
Banyaknya jumlah klien yang mengeluh nyeri post bedah mayor di RSUD Tugurejo Semarang disebabkan karena perawat di sana lebih menekankan pada pemberian analgetik dan belum melakukan intervensi keperawatan  yaitu pembelajaran teknik relaksasi napas dalam. Akibatnya, ketika efek analgetik menurun atau hilang maka sensasi nyeri akan dirasakan oleh klien. Padahal teknik relaksasi napas dalam dapat digunakan oleh klien untuk mengontrol nyeri yang ia rasakan. Teknik relaksasi napas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri, walaupun tingkat keefektifannya masih belum ada angka yang pasti, karena hal inilah maka perlu dilakukan penelitian apakah ada perbedaan penurunan intensitas nyeri yang dirasakan oleh klien post bedah mayor antara sebelum dengan sesudah dilakukan teknik relaksasi napas dalam di RSUD Tugurejo Semarang.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu apakah ada perbedaan penurunan intensitas nyeri sebelum dilakukan teknik relaksasi napas dalam dengan sesudah dilakukan teknik relaksasi napas dalam.

Selengkapnya 




Read More..

HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN DENGAN KEMAMPUAN AMBULASI DINI PADA IBU POST PARTUM NORMAL PRIMIPARA DI RSUD XXX

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal merupakan salah satu unsur penentu status kesehatan (Siswono, 2003). Dengan meningkatkan pelayanan keperawatan pada ibu post partum, serta intervensi yang tepat sesuai permasalahan yang dihadapi diharapkan angka kematian ibu waktu nifas menurun.
Kematian maternal pada saat ini masih merupakan masalah kesehatan reproduksi yang sangat penting. Angka kematian ibu melahirkan di Indonesia termasuk tertinggi di kawasan ASEAN, yakni 307 per 100.000 kelahiran. Negara anggota ASEAN lainnya, Malaysia tercatat 30 per 100.000 kelahiran dan Singapura 9 per 100.000 kelahiran hidup (Siswono, 2003).
Menurut Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002/2003 Angka Kematian Ibu (AKI) di Propinsi Jawa Tengah sebesar 121 per 100.000 kelahiran hidup. Di Propinsi Jawa Tengah kematian ibu terendah dicapai Kabupaten Klaten kasus 6 kematian dari 17.203 kelahiran hidup dan proporsi kematian ibu tertinggi diperoleh Kabupaten Batang dengan kasus 42 kematian dari 11.517 kelahiran hidup. Kejadian kematian ibu maternal paling banyak adalah waktu bersalin sebesar 49,5% kemudian waktu hamil sebesar 26% dan pada waktu nifas 24,5% (Dinas Kesehatan Propinsi Jawa Tengah, 2003).
Menjelang persalinan sebagian besar ibu merasa takut menghadapi persalinan apalagi bagi untuk yang pertama kali atau primipara (Manuaba, 1999). Proses persalinan adalah saat yang menegangkan dan mencemaskan bagi perempuan dan keluarganya (Bobak, 2004). Persalinan adalah proses pengeluaran hasil konsepsi (janin dan uri) yang telah cukup bulan/ dapat hidup diluar kandungan melalui jalan lahir atau melalui jalan lain, dengan bantuan atau tanpa bantuan (Manuaba, 1998).
Proses persalinan merupakan pengalaman yang penuh dengan kecemasan bagi ibu maupun keluarga begitu juga beberapa jam setelah melahirkan. Periode post partum adalah waktu penyembuhan dan perubahan,
waktu kembali pada keadaan tidak hamil dan penyesuaian terhadap penambahan keluarga baru (Hamilton, 1995).
Menurut Chairuslah (2006), kendati merasa letih ibu post partum tidak boleh bersikap malas-malasan dengan hanya berbaring sepanjang waktu. Menurut Puspayanti (2006), agar sirkulasi darahnya menjadi baik, ini dimaksudkan agar ibu terhindar dari pembengkakan selain mencegah trombosis, yakni penyumbatan pembuluh darah. Pada persalinan normal, 8 jam sesudahnya, ibu diharapkan sudah mobilisasi. Minimal sudah turun dari tempat tidur, belajar duduk dan jalan sendiri. Berlawanan dengan 25 tahun yang lalu, perempuan yang baru saja melahirkan tidak lagi harus berada di tempat tidur. Ibu yang baru melahirkan boleh mulai berjalan-jalan segera mungkin kalau ibu menginginkan, ke toilet kalau ibu perlu dan beristirahat kalau ibu letih. Seringkali ibu hanya perlutidur siang saja. Perawatan perempuan pada masa nifas menjadi lebih mudah
dengan diperbolehkannya ambulasi dini (Liewellyn, 2001).
Banyak keuntungan dari ambulasi dini dikonfirmasi oleh sejumlah penelitian yang terkontrol baik. Para perempuan mengatakan bahwa mereka merasa lebih baik dan lebih kuat setelah ambulasi awal. Komplikasi kandung kencing dan konstipasi kurang sering terjadi. Ambulasi dini juga menurunkan frekuensi trombosis dan emboli pada masa nifas (Cunningham, 1995).
Dari penelitian sebelumnya hampir 80% ibu yang baru melahirkan mengalami kecemasan (Rita, 2003). Ibu yang baru melahirkan kerap cemas akan keadaan tubuh yang tidak menarik, cemas akan kurangnya produksi ASI, cemas akan kesehatan si kecil, cemas akan kesehatan diri sendiri. Kecemasankecemasan
ini membuat kondisi ibu tidak stabil. Dari penelitian sebelumnya aspek-aspek psikologis yang terjadi pada ibu post partum primipara adalah takut bergerak karena nyeri perineum setelah melahirkan, sehingga
mempengaruhi kemauan untuk melakukan ambulasi dini (Ayah Bunda, 2007).
Data survey awal dari hasil wawancara dengan Kepala Ruang Bougenvile di RSUD Tugurejo Semarang pada tanggal 1-17 bulan Januari terjadi persalinan primipara sebanyak 24 kasus, sedangkan 5 kasus
primigravida mengalami proses persalinan tidak normal yaitu dengan operasi caesar. Hasil wawancara dengan 15 ibu post partum normal primipara 60% ibu post partum normal primipara menyatakan mengalami kecemasan dan belum melakukan ambulasi dini secara optimal.
Perawatan ibu post partum menjadi lebih mudah dengan diperbolehkannya ambulasi dini. Ibu yang baru melahirkan kerap cemas, kecemasan ini membuat kondisi ibu tidak stabil sehingga mempengaruhi
kemauan untuk melakukan ambulasi dini. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul ” Hubungan Tingkat Kecemasan Dengan Kemampuan Ambulasi Dini Pada Ibu Post Partum Normal Primipara Di RSUD XXX”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu : Adakah hubungan tingkat kecemasan dengan kemampuan ambulasi dini pada ibu post partum normal primipara di RSUD XXX

Selengkapnya 


Read More..

Hubungan terapi pijat bayi terhadap penurunan demam pada bayi 1-5 bulan di tempat pemijatan bayi di Kelurahan XXX

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Masa bayi adalah periode kehidupan yang sesungguhnya. Sekitar usia 2 bulan munculnya senyum dengan keinginan sendiri dan meningkatnya kontak mata menandai perubahan dalam hubungan orang tua dengan anak (Behrman, 1999). Pertumbuhan fisik, pendewasaan, pencapaian kemampuan dan reorganisasi psikologi pada bayi terjadi dengan cepat pada tahun pertama. Dalam perkembangannya di tahun pertama tidak selalu lancar, karena bayi masih rentan terhada berbagai penyakit.Salah satu gejala penyakit yag sering terjadi adalah demam.
Demam adalah pergerakan dan aktivitas sel – sel darah putih yang meningkat serta terjadimya perubahan bentuk lympocyt yang dapat membunuh bakteri maupun virus yang maasuk kedalam tubuh. Demam juga merupakan reaksi alamiah dari tubuh sebagai mekanis pertahanan tubuh terhadap infeksi, karena demam hanyalah suatu gejala. Pada bayi kurang 3 bulan gejala yang ditujukan dengan susah tidur, rewel, dan tidak mau menetek.Demam pada bayi atau anak balita merupakan kasus yang tidak dapat diabaikan karena dapat mengganggu tumbuh kembang bayi dan balita. (Wijaya, 2001).
Penelitian yang telah dilakukan Cleveland Clinic Amerika Serikat, bahwa anak normal usia < 1 tahun rata–rata mengalami infeksi 6 kali pertahun dengan gejala klinis khususnya demam (Widodo, 2006). Upaya pencegahan dan penurunan demam akibat adanya proses infeksi yaitu dengan meningkatkan daya tahan tubuh. Menurut Soejatmiko terapi sentuhan berupa pijat bayi mampu merangsang fungsi sel-sel otak. Meningkatnya sistem kekebalan tubuh merupakan salah satu manfaat dari pijat bayi. (http://www.
Tabloid Nova.Com. Diperoleh tanggal 26 desember 2006). Pijat merupakan stimulasi pada bayi tidak bisa dipandang dengan sebelah mata. Menurut Soedjadmiko kebutuhan stimulasi meliputi rangsangan terus menerus dengan berbagai cara untuk merangsang semua sensorik dan motorik yang dapat membantu relaksasi. (http://www.Tabloid Nova. Com. Diperoleh tanggal 26 desember 2006).
Penelitian ilmiah mengenai pijat bayi belum banyak dilakukan namun dibeberapa Rumah Sakit di AS, Cina, Filipina, dan Hongkong, pijat bayi sudah dimasukan dalam sistem pelanyanan kesehatan bayi. Menurut
Soejadmiko, pijat bayi dapat digolongkan sebagai aplikasi stimulasi sentuhan yang berupa kasih sayang, pehatian, suara, pandangan mata, gerakan dan pijatan ( http://www. Republika.Co.id. Diperoleh 26 desember 2006). Efek dari adanya rangsangan pada kulit berupa pijatan akan dihantarkan oleh ujungujung
saraf di sekitar folikel rambut, kemudian melalui jaringan saraf yangada di tulang belakang akan disampaikan ke otak. Sehingga gelombang oksigen akan lebih banyak dikirim ke otak dan ke seluruh tubuh. Pengaruh positif atau manfaat pijat bayi antara lain mengembangkan sistem imun, membantu bayi berlatih relaksasi, membantu mengatasi gangguan tidur dan membantu meredakan ketidaknyamanan saat demam jelas Rini Sekartini, dari Departemen Ilmu Kesehatan Anak RSCM. (http:// www. Tabloid Nova. Com. Diperoleh 26 desember 2006).
Terapi sentuhan berupa pijatan dapat meningkatkan aktifitas neurotransmiter serotinin yaitu meningkatkan kapasitas sel reseptor yang mengikat hormon stress. Penurunan hormon stress ini dapat meningkatkan daya tahan tubuh. Peneliltian terhadap penderita HIV yang dipijat selama 5 kali dalam seminggu selama 1 bulan menunjukan terjadinya peningkatan jumlah toksisitas sel pembuluh alami (natural killel cells). Hal tersebut dapat mengurangikemungkinan terjadinya infeksi sekkunder pada penderita AIDS (Roesli, 2001).
Dari hasil survei di tempat pemijatan bayi 80% ibu yang mempunyai bayi usia 1-5 bulan membawa ke dukun bayi karena mengalami demam. Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk meneliti
tentang Hubungan terapi pijat bayi terhadap penurunan demam pada bayi 1-5 bulan di tempat pemijatan bayi di Kelurahan XXX.
B. Rumusan Masalah
Adakah hubungan terapi pijat bayi terhadap penurunan demam pada
bayi usia 1-5 bulan di tempat pemijatan bayi Kelurahan XXX
Selengkapnya 


Read More..

HUBUNGAN PENGETAHUAN, SIKAP, MOTIVASI DENGAN PRAKTEK PERAWATAN PAYUDARA SELAMA HAMIL DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX



BAB I

PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang

Perawatan kesehatan masyarakat merupakan suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan kesehatan masyarakat dengan dukungan peran serta aktif masyarakat (Effendy, 1998). Tujuan dari perawatan kesehatan masyarakat adalah memperoleh derajat kesehatan yang optimal bagi setiap individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Perawatan kesehatan tersebut lebih menekankan kepada upaya peningkatan kesehatan dan pencegahan terhadap berbagai gangguan kesehatan dan keperawatan, dengan tidak melupakan upaya pengobatan dan perawatan serta pemulihan bagi yang sedang menderita penyakit maupun dalam kondisi pemulihan terhadap penyakit.
1
 
Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran perawatan kesehatan masyarakat adalah kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi terhadap masalah kesehatan, misal ibu hamil, ibu setelah melahirkan, ibu menyusui, ibu nifas, bayi, balita dan usia lanjut. Pada periode antenatal, ibu hamil harus dipersiapkan baik secara fisik maupun psikologis untuk merawat bayinya. Perawatan antenatal yang baik yaitu dengan memberikan perhatian yang khusus pada persiapan payudara serta putting susu dalam mengantisipasi permasalahan pemberian ASI pada bayi. Terdapat kesulitan psikologi maupun kesulitan fisik yang mencegah ibu menyusukan bayinya. Terdapat kesulitan psikologis maupun kesulitan fisik yang mencegah ibu menyusukan bayinya. Menurut Soetjiningsih (1997) bahwa persiapan psikologis ibu untuk menyusui pada saat kehamilan sangat berarti, karena keputusan atau sikap ibu yang positif harus sudah ada pada saat kehamilan atau bahkan jauh sebelumnya. Sikap ibu dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain adat atau kebiasaan atau kepercayaan menyusui di daerah masing-masing, pengalaman menyusui sebelumnya, pengetahuan tentang manfaat ASI, kehamilan diinginkan atau tidak. Dukungan dari perawat atau petugas kesehatan, teman atau kerabat dekat sangat dibutuhkan terutama pada ibu yang baru pertama kali hamil. Cara terbaik dalam mempersiapkan pemberian ASI adalah keadaan kejiwaan ibu yang sedapat mungkin tenang dan tidak menghadapi banyak masalah.
Pada ibu menyusui sering muncul masalah-masalah yang mengganggu proses laktasi, terutama terdapat pada ibu primipara. Menurut Soetjiningsih (1997) bahwa masalah-masalah yang sering terjadi pada ibu menyusui antara lain, puting susu nyeri atau lecet, ini merupakan masalah yang tersering dalam menyusui. Kebanyakan puting nyeri atau lecet disebabkan oleh kesalahan dalam teknik menyusui, yaitu bayi tidak menyusu sampai ke kalang payudara. Pembengkakan payudara dapat terjadi karena ASI tidak disusu dengan adekuat, sehingga ASI terkumpul pada sistem duktus yang mengakibatkan terjadinya pembengkakan. Kondisi puting yang masuk ke dalam (inversi) juga sering terjadi. Jika masalah-masalah ini tidak ditemukan selama kehamilan, laktasi akan sulit dilaksanakan khususnya hari ketiga dan keempat ketika payudara yang mengalami distensi menarik puting ke dalam dan membuatnya lebih mendatar. Sedangkan menurut Farrer (2001) bahwa kesulitan yang dapat timbul selama proses laktasi yaitu puting yang retak-retak, puting yang masuk ke dalam, mastitis infektif dan laktasi yang tidak memadahi  oleh karena banyak sekali masalah yang dapat timbul selama proses menyusui, maka perlu dilakukan perawatan antenatal yang baik karena ASI berperan penting untuk membuat bayi sehat dan kuat.
Kesulitan-kesulitan yang timbul selama proses menyusui dapat dicegah lewat perawatan antenatal yang baik, yaitu dengan memberikan perhatian yang khusus pada persiapan payudara serta putting susu dalam mengantisipasi secara positif pemberian ASI pada bayi. Menurut Soetjiningsih (1997) bahwa keunggulan ASI perlu ditunjang oleh cara pemberian yang benar, misal pemberian segera setelah lahir (30 menit pertama bayi harus sudah disusukan), dan pemanfaatan kolostrum sehingga diperlukan usaha yang benar agar setiap ibu dapat menyusui sendiri bayinya. Untuk mengantisipasi terjadinya permasalahan pada saat menyusui, maka ibu perlu melakukan perawatan payudara secara dini pada umur kehamilan 7-8 bulan. Bila seorang ibu hamil tidak melakukan perawatan payudara dengan baik dan hanya melakukan perawatan setelah melahirkan atau setelah ada kesulitan menyusui, maka sering dijumpai kasus yang akan merugikan ibu dan bayi. Kasus yang sering terjadi antara lain ASI tidak keluar dan inilah yang sering terjadi, puting susu tidak menonjol sehingga bayi sulit menghisap, produksi ASI sedikit sehingga tidak cukup dikonsumsi bayi, infeksi pada payudara, payudara bengkak, dan muncul benjolan (Anwar, 2005, Perawatan Payudara Selama Hamil, ¶4, http://www.assyariah.com, diperoleh tanggal 18 September 2006). Oleh karena itu keluarga mempunyai peran penting untuk memberikan motivasi pada ibu untuk melakukan perawatan payudara sedini mungkin dan supaya ibu lebih siap untuk menyusui bayinya. Perawatan payudara sangat penting dilakukan selama hamil sampai masa menyusui, karena payudara merupakan satu-satunya penghasil ASI yang merupakan makanan pokok bayi yang baru lahir. Inilah karunia Allah yang sangat besar pada kaum wanita dimana ASI merupakan makanan paling cocok bagi bayi, komposisinya paling lengkap, dan tidak bisa ditandingi susu formula.
Permasalahan sebagaimana tersebut di atas juga banyak terjadi di wilayah kerja Puskesmas Guntur II. Dari data yang didapat dari Puskesmas Guntur II, pada bulan Oktober 2006 terdapat ibu melahirkan sebanyak 62 orang. Dari data tersebut, sebanyak 25 orang (40 %) mengeluh mengalami kesulitan dalam proses menyusui. Sedangkan pada bulan November 2006 terdapat ibu melahirkan sebanyak 65 orang dan 34 orang (46 %) ibu juga mengeluh mengalami kesulitan dalam proses menyusui. Petugas kesehatan mengatakan untuk mengatasi masalah tersebut, dengan menganjurkan ibu untuk merawat payudara dan memberi obat. Berdasarkan wawancara dengan petugas kesehatan, dikatakan bahwa ibu-ibu belum pernah diberikan penyuluhan kesehatan tentang perawatan payudara dan baru memberi anjuran ketika ada masalah pada payudara ibu pada saat menyusui. Menurut Notoatmodjo (1997) bahwa pendidikan merupakan behavioral investment ‘jangka panjang’. Hasil investment pendidikan kesehatan baru dapat dilihat beberapa tahun kemudian menghasilkan perubahan atau peningkatan pengetahuan masyarakat. Sedangkan pengetahuan akan berpengaruh kepada perilaku sebagai hasil jangka menengah (intermediate impact) dari pendidikan kesehatan. Dalam hal ini, petugas kesehatan mempunyai peran penting untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan payudara saat hamil sehingga ibu mempunyai pengetahuan dan sikap yang positif yang dapat menimbulkan motivasi untuk melakukan perawatan payudara. 

B.       Perumusan Masalah

Melakukan perawatan payudara saat hamil sangat penting untuk mempersiapkan payudara ibu agar dapat memproduksi ASI secara optimal demi memenuhi kebutuhan nutrisi bayi. Selain itu juga untuk mempersiapkan payudara dan puting susu agar siap untuk menyusui. Ibu hamil harus mengetahui cara merawat payudara selama hamil, karena selain bermanfaat untuk memproduksi ASI secara optimal, juga dapat mengantisipasi permasalahan yang mungkin timbul sehingga dapat menghambat proses menyusui. Selain itu, ibu juga dapat mengetahui secara dini permasalahan pada payudaranya, misal puting susu masuk ke dalam (inversi). Selama ini perawatan payudara saat hamil  sering diabaikan oleh ibu-ibu di wilayah kerja Puskesmas Guntur  II dan ibu-ibu baru melakukan perawatan payudara setelah mengalami kesulitan saat menyusui. Selain itu berdasarkan wawancara dengan petugas kesehatan bahwa belum ada pendidikan kesehatan tentang cara perawatan payudara selama hamil.
Sesuai dengan  latar belakang diatas, sehingga penulis ingin mengetahui : “Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan dengan praktek perawatan payudara selama hamil, sikap ibu dengan perawatan payudara selama hamil, motivasi ibu dengan praktek perawatan payudara selama hamil”.

Selengkapnya 




Read More..

HUBUNGAN PENDAMPINGAN SUAMI DENGAN TINGKAT KECEMASAN IBU MENGHADAPI PERSALINAN PADA IBU PRIMIPARA DI RSUD XXX



BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelayanan kesehatan Maternal dan Neonatal merupakan salah satu unsur penentu status kesehatan. Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia menurut Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) menunjukkan telah turun dari 390 per 100.000 di tahun 1994 menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup antara tahun 2002-2003, dari 5.000.000 kelahiran yang terjadi di Indonesia setiap tahunnya, diperkirakan 20.000 ibu meninggal akibat komplikasi kehamilan atau persalinan. Kematian ibu menurut World Health Organizatian (WHO) adalah kematian yang terjadi saat hamil, bersalin atau dalam 42 hari pasca persalinan dengan penyebab yang berhubungan langsung atau tidak langsung terhadap kehamilan (Dinkes, 2006).
Persalinan merupakan masa yang cukup berat bagi ibu, dimana proses melahirkan layaknya sebuah pertaruhan hidup dan mati seorang ibu, terutama pada ibu primipara, dimana mereka belum memiliki pengalaman melahirkan.    Rasa cemas, panik, dan takut yang melanda ibu dengan semua ketidakpastian serta rasa sakit yang luar biasa yang dirasakan ibu dapat mengganggu proses persalinan dan mengakibatkan lamanya proses persalinan (Kurniasih, 2004). Rasa cemas dapat timbul akibat kekhawatiran akan proses kelahiran yang aman untuk dirinya dan bayinya (Bobak, Jensen & Lowdermilk, 2005).
Secara psikologis, istri membutuhkan pendampingan suami selama proses persalinan. Proses persalinan merupakan masa yang paling berat bagi ibu, dimana ibu membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, terutama suami agar dapat menjalani proses persalinan sampai melahirkan dengan aman dan nyaman (Musbikin, 2005).  Perhatian yang didapat seorang ibu pada masa persalinan akan terus dikenang  oleh ibu terutama bagi mereka yang pertama kali melahirkan dan dapat menjadi modal lancarnya persalinan serta membuat ibu menjadi merasa aman dan tidak takut menghadapi persalinan (Fitriyani, 2006).
Dukungan yang terus menerus dari seorang pendamping persalinan kepada ibu selama proses persalinan dan melahirkan dapat mempermudah proses persalinan dan melahirkan, memberikan rasa nyaman, semangat, membesarkan hati ibu dan meningkatkan rasa percaya diri ibu, serta mengurangi kebutuhan tindakan medis (Nakita, 2004).
Dukungan suami dalam proses persalinan merupakan sumber kekuatan bagi ibu yang tidak dapat diberikan oleh tenaga kesehatan. Dukungan suami dapat berupa dorongan, motivasi terhadap istri baik secara moral maupun material serta dukungan fisik, psikologis, emosi, informasi, penilaian dan finansial (Bobak, Jensen & Lowdermilk, 2005).
Banyak penelitian yang mendukung kehadiran orang kedua saat persalinan berlangsung. Penelitian oleh Hodnett, 1994 ; Simpkin, 1992 ; Hofmeyr, Nikodem & Wolmann, 1991; Hemminki, Virta & Koponen, 1990 yang dikutip dari Depkes tahun 2001 menunjukkan bahwa ibu merasakan kehadiran orang kedua sebagai pendamping dalam persalinan akan memberikan kenyamanan pada saat persalinan. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa kehadiran seorang pendamping pada saat persalinan dapat menimbulkan efek positif terhadap hasil persalinan, dapat menurunkan rasa sakit, persalinan berlangsung lebih singkat dan menurunkan persalinan dengan operasi termasuk bedah caesar (Astuti,  2006).
Penelitian lain tentang pendamping atau kehadiran orang kedua dalam proses persalinan, yaitu oleh Dr. Roberto Sosa (2001) yang dikutip dari Musbikin dalam bukunya yang berjudul Panduan Bagi Ibu Hamil dan Melahirkan menemukan bahwa para ibu yang didampingi seorang sahabat atau keluarga dekat (khususnya suami) selama proses persalinan berlangsung, memiliki resiko lebih kecil mengalami komplikasi yang memerlukan tindakan medis daripada mereka yang tanpa pendampingan. Ibu-Ibu dengan pendamping dalam menjalani persalinan, berlangsung lebih cepat dan lebih mudah. Dalam penelitian tersebut, ditemukan pula bahwa kehadiran suami atau kerabat dekat akan membawa ketenangan dan menjauhkan sang ibu dari stress dan kecemasan yang dapat mempersulit proses kelahiran dan persalinan, kehadiran suami akan membawa pengaruh positif secara psikologis, dan berdampak positif pula pada kesiapan ibu secara fisik (Musbikin, 2005).          
Data  survey awal di RSUD Tugurejo Semarang pada tanggal 1 Januari 2007 sampai 13 Januari 2007 menunjukkan terjadi persalinan primipara normal sebanyak 24 kasus. Berdasarkan hasil wawancara dengan ibu primigravida yang menunggu saat-saat persalinan primipara di ruang Bougenvil RSUD Tugurejo Semarang diperoleh data angka tingkat kecemasan ibu ketika menghadapi persalinan khususnya pada ibu bersalin primipara tinggi yaitu sebanyak 21 ibu mengalami kecemasan. Salah satu penyebab tingginya kecemasan ibu dalam menghadapi persalinan adalah tidak didampingi oleh suami saat persalinan,  sehingga ibu tidak bisa berbagi rasa sakit dan cemas saat persalinan tiba, sedangkan ibu yang didampingi suami saat persalinan hanya 3 orang saja. Di RSUD Tugurejo Semarang program pendampingan orang kedua (khususnya suami) dalam proses persalinan belum terlaksana secara optimal karena sempitnya ruang bersalin dan banyaknya mahasiswa praktek yang ikut dalam persalinan, namun demikian upaya pendampingan orang kedua (khususnya suami) diprioritaskan untuk tetap dilaksanakan.
Berdasarkan uraian di atas peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian tentang  “Hubungan pendampingan suami dengan tingkat kecemasan ibu menghadapi persalinan pada ibu  primipara di RSUD Tugurejo Semarang”.  

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas rumusan masalah penelitian  yaitu : “Adakah hubungan pendampingan suami dengan tingkat kecemasan ibu menghadapi persalinan pada ibu primipara di RSUD 
Selengkapnya 


Read More..