Blog Gw

Asuhan Keperawatan klien Tn. S dengan Gagal Ginjal Kronik di IRNA C3Lt1 RSUP XXX



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Perkembangan penyebab Gagal Ginjal Kronik di Indonesia menurut DR. Suharjono sangat khas di negara berkembang, yakni radang ginjal, infeksi ginjal ( yakni batu ginjal ), Diabetes Mellitus, dan Hipertensi. Kasus di Indonesia yang terbilang tinggi membuat peradangan menjadi penyebab gagal ginjal terbanyak di Indonesia sekitar 20 %. DR. Suharjono mengungkapkan fakta bahwa pada tahun 2006 di Indonesia terdapat 15 juta orang yang menderita penyakit gagal ginjal kronik. Penyakit ginjal layaknya fenomena gunung es, jumlah yang tidak terdeteksi lebih besar dibanding pasien yang telah divonis gagal ginjal hanya sekitar 0,1% kasus yang terdeteksi, semantara kasus yang tidak terdeteksi diperkirakan mencapai 11-16%. Penderita gagal ginjal berada pada kisaran usia 50 tahun yang masih termasuk usia produksi. Gagal ginjal kronik merupakan suatu kelainan pada ginjal dimana ketika dilakukan pemeriksaan diketahui terdapat darah dan kadar protein yang tinggi didalam urine diperoleh hasil sekitar 2,8% diketahui ada protein dalam urine dan 22-25 % diketahui menderita hipertensi (medicastore, 2008) 
Penyakit Gagal Ginjal kronik merupakan penyakit yang sangat berbahaya karena penyakit ini dapat berlangsung lama dan mematikan. Disamping itu pula penyakit gagal ginjal kronik sangat membutuhkan biaya yang cukup banyak tetapi penyakit gagal ginjal kronik sangat sukar untuk disembuhkan.
Ginjal, satu organ tubuh yang mempunyai satu dari tiga fungsi sebagai filtrasi seluruh cairan dan elekrolit dalam tubuh manusia, turut terkena dampak dari gaya hidup manusia yang semakin konsumtif. Melalui asuhan makanan dan minuman yang mengandung zat-zat asing tertentu, akan semakin memperberat kerja ginjal khususnya glomerulus untuk melakukan filtrasi. Jika proses filtrasi pada glomerulus untuk melakukan filtrasi. Jika proses pada glomerulus terganggu, maka akan berpengaruh pada kadar  kreatinin dalam darah kreatinin serum merupakan indakator yang paling sensitif dari fungsi ginjal karena substansi ini dipengaruhi secara konstan oleh tubuh. Kreatinin plasma akan meningkat seiring dengan penurunan laju filtrasi, glomerulus, dimulai bila lajunya kurang dari 60 ml/mnt. Pada gagal ginjal kronik, konsentrasi kreatinin dibawah 1 mmol / L (Arif Manjoer, 2002 : 532)
Gejala-gejala yang khas pada gagal ginjal kronik di tandai dengan adanya uremia atau peningkatan ureum dalam darah. Ureum adalah sisa hasil ikatan sisa metabolisme protein dan asam amino yang diekskresikan melalui ginjal, karena ginjal mengalami penurunan fungsi yang mengakibatkan retensi kadar ureum dalam darah. Toksin ureum inilah yang merusak sejumlah besar fungsi organ tubuh. Gejala-gejala uremia timbulnya begitu lambat sehingga klien dan keluarganya tidak mengetahui datangnya serangan. Manifestasi awal dari gejala uremia adalah nausea, apatis, kelemahan dan kelelahan. Gejala-gejala berlanjut menjadi muntah-muntah semakin lemah, dan confusion (Port, 1998).
Kelainan klinis pada uremia yaitu terjadi gangguan keseimbangan cairan, elektroit dan asam basa. Pada stadium awal gagal ginjal kronik terjadi dehidrasi, poliuria dan nocturi. Pada stadium lanjut terjadi retensi garam dan air. Pada keseimbangan asam basa terjadi hiperkalemia, hiperfostemia dan hipokalemia. Fungsi kardiovaskuler mengalami hipertensi. Gagal ginjal jantung kongestif dan bila toksin uremia sampai ke rongga peri kardium terjadi infeksi pericarditis. Masalah hematology yang sering terjadi adalah klien mengalami anemia, karena mengalami penurunan eritrosit oleh ginjal, kekurangan asam folat dan besi. Serta karena memendeknya pembentukan sel darah merah. Penurunan eritrosit mengakibatkan penurunan sel darah merah. Penurunan eritrosit mengakibatkan penurunan trombosit dan leukosit sehingga klien berisiko tinggi terjadi pendarahan dan infeksi. Toksin uremia  yang menyerang paru terjadi gangguan fungsi paru, edema paru, dan respiratori sindrom. Sistem pencernaan juga meracuni ureum menyebabkan anoreksia, nousea, dan mutah-mutah. Komplikasi yang sering terjadi yaitu ulkus, peptikum sehingga meningkatkan resiko pendarahan gastrointestinal (Porth 1998)
Kelainan-kelainan klinis diatas karena uremia yang berada pada organ-organ tubuh sehingga mengalami penuruan fungsi pada organ yang diserang seperti yang  dijelaskan diatas. Berbagai macam masalah yang ditimbulkan akibat gagal ginjal kronik membutuhkan ketrampilan dan pengetahuan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien dengan gagal ginjal kronik. Pengkajian harus dilakukan secara teliti dan komprehensif meliputi aspek biopsikososiokultural supaya dalam menegakkan diagnosa keperawatan menetapkan tujuan, memberikan tindakan keperawatan sesuai dengan masalah klien (Doengoes, 1999).
Mengingat begitu kompleksnya akibat yang ditimbulkan pada klien dengan gagal ginjal kronik dan banyaknya komplikasi yang terjadi. Hal inilah yang melatar belakangi penulis mengambil karya tulis ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan pada Tn. S dengan gagal ginjal kronik diruang C3 lantai 1 RSUP XXX.

B.     Tujuan Penulisan
1.      Tujuan Umum
Untuk menggambarkan asuhan keperawatan pada Tn. S dengan Chronic Kidney Disease di ruang C3 Lantai 1 Rumah Sakit XXX.
2.      Tujuan Khusus
Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, diharapkan penulis mampu:
Memahami masalah-masalah keperawatan yang timbul pada pasien dengan Chronic Kidney Disease.
Memahami alternatif pemecahan masalah keperawatan yang timbul pada klien dengan Chronic Kidney Disease.
Mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat yang ditemukan dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan Chronic Kidney Disease.

Selengkapnya 




Read More..

Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Gangguan Konsep Diri Harga Diri Rendah Pada Tn. N Di Ruang IV (Dewaruci) Rumah Sakit Jiwa Daerah XXX



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan di zaman global seperti sekarang ini berakibat makin kompleks kebutuhan masyarakat. Industrialisasi dan urbanisasi makin lekat pada masyarakat. Ini berakibat makin banyaknya masalah pada kehidupan tidak terkecuali problem sosial. Kurangnya adaptasi untuk mengikuti trend itu menjadi masalah baru dalam kehidupan masyarakat.
Ketidakmampuan dalam beradaptasi tersebut berdampak pada kebingungan, kecemasan dan frustasi pada sebagian masyarakat, konflik batin dan gangguan emosional menjadi ladang subur bagi tumbuhnya penyakit mental. (www.google.com)
Di dalam hidup di masyarakat manusia harus dapat mengembangkan dan melaksanakan hubungan yang harmonis baik dengan individu lain maupun lingkungan sosialnya. Tapi dalam kenyataannya individu sering mengalami hambatan bahkan kegagalan yang menyebabkan individu tersebut sulit mempertahankan kestabilan dan identitas diri, sehingga konsep diri menjadi negatif. Jika individu sering mengalami kegagalan maka gangguan jiwa yang sering muncul adalah gangguan konsep diri misal harga diri rendah.
Faktor psikososial merupakan faktor utama yang berpengaruh dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, dan dewasa). Yang mana akan menyebabkan perubahan dalam kehidupan sehingga memaksakan untuk mengikuti dan mengadakan adaptasi untuk menanggulangi stressor yang timbul. Ketidakmampuan menanggulangi stressor itulah yang akan memunculkan gangguan kejiwaan.
Salah satu gangguan jiwa yang ditemukan adalah gangguan konsep harga diri rendah, yang mana harga diri rendah digambarkan sebagai perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan (Keliat, 1999). Perawat akan mengetahui jika perilaku seperti ini tidak segera ditanggulangi, sudah tentu berdampak pada gangguan jiwa yang lebih berat. Beberapa tanda-tanda harga diri rendah adalah rasa bersalah terhadap diri sendiri, merendahkan martabat sendiri, merasa tidak mampu, gangguan hubungan sosial seperti menarik diri, percaya diri kurang, kadang sampai mencederai diri (Townsend, 1998).
Menurut studi pendahuluan di ruang IV (Dewa Ruci) RSJD XXX dari 24 klien, yang mengalami harga diri rendah mencapai 3 orang. Rata-rata dari mereka berkisar antara usia 30-40 tahun. Tanda-tanda HDR yang ditemukan pada klien diantaranya rasa bersalah dan khawatir pada diri sendiri, menarik diri dari realitas serta gangguan berhubungan yang disebabkan oleh perasaan tidak berharga. Masalah rumah tangga dan ekonomi menduduki prosentase 67%.
Atas dasar fenomena di atas penulis tertarik untuk mengangkat judul "Asuhan Keperawatan Jiwa dengan Gangguan Konsep Diri Harga Diri Rendah Pada Tn. N di Ruang IV (Dewa Ruci) Rumah Sakit Jiwa Daerah XXX".
B.     Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Tujuan umum
Perawat mampu mendiskripsikan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan konsep diri : harga diri rendah.
2.      Tujuan khusus
a.       Untuk mengidentifikasi permasalahan yang muncul pada klien selama memberikan asuhan keperawatan gangguan konsep diri : harga diri rendah dan berusaha menyelesaikan permasalahan tersebut.
b.      Manggambarkan hasil pengkajian keperawatan pada Tn. N dengan gangguan konsep diri: harga diri rendah.
c.       Mendiskripsikan  hasil analisa data yang diperoleh pada Tn. N dengan gangguan konsep diri: harga diri rendah.
d.      Mendiskripsikan diagnosa keperawatan yang muncul pada Tn. N dengan gangguan konsep diri: harga diri rendah.
e.       Mendiskripsikan intervensi yang dilakukan pada Tn. N dengan gangguan konsep diri: harga diri rendah.
f.       Mendiskripsikan implementasi yang telah dilakukan pada Tn. N dengan gangguan konsep diri: harga diri rendah.

Selengkapnya 




Read More..

Asuhan Keperawatan Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi Pendengaran Pada Ny. A di Ruang XII RSJD XXX



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Era globalisasi dalam memperoleh kesempatan mendapatkan lapangan pekerjaan semakin sempit serta makin lamanya krisis ekonomi di negara kita secara tidak langsung mempengaruhi cara berfikir maupun cara bertindak bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, terutama golongan menengah ke bawah dalam menghadapi masalah. Bagi orang yang berfikir positif dan tidak terlalu pesimis menghadapi masalah yang muncul, mungkin tidak akan mudah mengalami stress dalam menghadapi masalahnya, tetapi bagi orang yang labil dan mudah putus asa akan berat menghadapinya. Apabila dalam mengatasinya dalam jangka waktu yang panjang dan juga tidak didukung oleh pengobatan secara optimal, maka akan sangat mempengaruhi kesehatan jiwa seseorang. Gangguan jiwa yang terjadi di Indonesia pada umumnya adalah skizofrenia Skizofrenia adalah  gangguan mental yang cukup luas dimana sekitar 99% pasien di RS jiwa di Indonesia adalah penderita skizofrenia. Angka kejadian Skizofrenia diseluruh dunia diperkirakan 0,2 – 0,8 % setahun ( Maramis, 1998). Sedangkan di Amerika Serikat angka kejadiannya adalah 1 per 1000 orang penduduk ( Kusuma, 1997).
 Gejala-gejala skizofrenia mengalami penurunan fungsi atau ketidakmampuan dalam menjalani hidupnya sangat terlambat produktifitasnya dan nyaris terputus relasinya dengan orang lain ( Arif, 2006 ).
Salah satu gejala umum Skizofrenia adalah halusinasi. Halusinasi ada beberapa macam dan salah satunya adalah halusinasi akustik (Rasmun, 2001). Klien dengan halusinasi akustik sering kali mendengar suara-suara yang langsung ditujukan pada klien dan biasanya isi suara tersebut tidak menyenangkan, bersifat menghina dan menuduh.
 Gejala yang muncul pada klien halusinasi adalah sering mendengar suara-suara dari luar baik jelas ataupun tidak jelas. Gejala tersebut sangat khas dalam penampilannya dan merupakan satu gangguan yang sangat kompleks ditemukan. Apabila gejala tersebut tidak mendapat penanganan secara baik, maka akan sangat beresiko munculnya gangguan dalam diri seseorang khususnya resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan. Seseorang akan merasa bahwa halusinasinya itu nyata sehingga klien menolak untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya ( Stiadi, 2006 ).
Berdasarkan masalah diatas, dalam meningkatkan kemampuan seseorang untuk berfikir secara realita dan nyata tentang dampak klien yang  mengalami halusinasi akustik apabila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat akan mengakibatkan timbulnya resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya sehingga, diperlukan penanganan khusus. Hal ini dikarenakan klien tidak bisa membedakan antara yang nyata dan tidak nyata. Klien merasa bahwa halusinasinya itu nyata dan klien akan menolak berhubungan dengan orang lain dan lingkungan sekitar yang nyata. Peran, fungsi dan tanggung jawab perawat adalah untuk meningkatkan derajat kesehatan jiwa, memulihkan, dan melaksanakan program rehabilitasi. Peran perawat dalam menghadapi klien halusinasi adalah membina hubungan saling percaya melalui pendekatan terapeutik dan membantu klien menghadirkan realita. Dari uraian diatas maka penulis mengambil kasus pasien “Asuhan Keperawatan Pada Klien dengan Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi pendengaran”.

B.     Tujuan Penulisan
1.      Tujuan umum
Mendiskripsikan asuhan keperawatan pada Ny. A dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi akustik di Ruang XII Rumah Sakit Jiwa Daerah XXX
2.      Tujuan Khusus
2.1.  Menggambarkan hasil pengkajian keperawatan pada Ny. A dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
2.2.  Menggambarkan hasil analisa data asuhan keperawatan pada Ny. A dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
2.3.  Mengidentifikasi diagnosa keperawatan yang muncul pada Ny. A dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
2.4.  Merencanakan intervensi keperawatan pada Ny. A dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.
2.5.  Menggambarkan hasil implementasi dan evaluasi yang dilakukan pada Ny. A dengan gangguan persepsi sensori : halusinasi pendengaran.

Selengkapnya 




Read More..

PERSEPSI IBU TERHADAP ASI EKSKLUSIF DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS XXX

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang


Setiap orang tua akan mengharapkan anaknya tumbuh menjadi orang – orang yang sukses di bidangnya. Orang tua selalu memiliki berbagai harapan pada anak – anaknya untuk menjadi orang “ besar “ di kemudian hari. Untuk menuju ke sana tentu saja tidak semudah diucapkan dan bisa ditempuh dengan cara yang sederhana. Ibu yang baik yang menginginkan anaknya sehat akan memberikan apa yang terbaik untuk bayinya. Air susu ibu ( ASI ) merupakan makanan yang paling baik untuk bayi. Menyusui adalah suatu cara yang tidak ada duanya dalam memberikan makanan yang ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat serta mempunyai pengaruh biologis dan kejiwaan yang unik terhadap kesehatan ibu dan bayi.(1,2).
Studi ilmiah telah membuktikan bahwa bayi dapat tumbuh lebih sehat dan cerdas dengan pemberian air susu ibu ( ASI ) secara eksklusif pada 4 – 6 bulan pertama kehidupannya. Orang tua tidak perlu lagi memberikan makanan tambahan lain pada usia ini, karena ASI merupakan makanan yang sempurna dan terbaik bagi bayi. ASI mengandung unsur – unsur gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. WHO dan UNICEF merekomendasikan menyusui sejak lahir sampai 6 bulan pertama, dan meneruskannya bersama pendamping ASI yang cukup sampai usia 2 tahun atau lebih ( 2 ).
Hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa gangguan pertumbuhan pada awal masa kehidupan Balita antara lain disebabkan karena kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan, pemberian makanan pendamping ASI ( MP – ASI ) terlalu dini atau terlalu terlambat, MP – ASI tidak cukup mengandung energi dan zat gizi mikro terutama mineral dan Zinc, perawatan bayi yang kurang memadai, dan ibu tidak berhasil memberikan ASI eksklusif kepada bayinya ( 3 ). Salah satu kendala yang dihadapi saat ini adalah kesulitan dalam upaya pemantauan ASI eksklusif, karena belum mempunyai sistem yang diandalkan.
Untuk mengetahui tingkat pencapaian dalam pemberian ASI eksklusif dilakukan melalui laporan dari  Puskesmas yang diperoleh dari wawancara waktu kunjungan bayi ke Puskesmas. Hasil yang diperoleh berdasarkan data dari profil kabupaten Jawa Tengah pada tahun 2004 menunjukkan cakupan pemberian ASI eksklusif mencapai rata – rata 20,18 %. Ini masih jauh dari harapan, karena rata – rata yang ditargetkan adalah 80 %. Data ini menunjukkan bahwa masih banyak ibu yang berhenti menyusui bayinya sebelum usia 4 – 6 bulan ( 4 ).
Jumlah ibu menyusui di Puskesmas Kagok Semarang pada bulan September 2006 sebanyak 392 orang. Dari 392 orang ini, tidak semuanya memberikan ASI eksklusif. Hanya 254 orang ( 65 % ) yang memberikan ASI eksklusif, padahal dari pihak Puskesmas sendiri telah mempunyai program untuk menggalakkan program ASI eksklusif. Salah satu program yang dijalankan adalah dengan memberikan konseling kepada ibu hamil pada saat kunjungan ke Puskesmas dan Posyandu. Masih rendahnya keberhasilan pemberian ASI eksklusif dipengaruhi oleh berbagai alasan sosial, ekonomi, budaya, termasuk kurangnya pemahaman tentang
ASI eksklusif. Dengan dikenalnya teknologi modern dan diserapnya gaya hidup baru, makna yang melekat dalam praktek kebiasaan menyusui telah menunjukkan penurunan yang nyata dalam masyarakat ( 5 ).
Sebagai petugas kesehatan, perawat mempunyai peran yang penting dalam upaya meningkatkan angka keberhasilan menyusui secara eksklusif, yaitu dengan memberikan dukungan yang aktif selama kehamilan dan setelah melahirkan, dengan cara memberikan penyuluhan yang benar tentang manajemen laktasi sejak
ANC yang meliputi: keunggulan ASI, kerugian susu formula, gizi ibu hamil yang menjamin lancarnya produksi ASI, cara perawatan payudara, dan cara menyusui yang benar. Di kamar persalinan perawat dapat merangsang puting susu untuk memacu refleks prolaktin dan oksitosin yang dibutuhkan dalam menyusui.
Meskipun ASI belum keluar, perawat harus mempertahankan kontak fisik bayi dengan ibu, karena dapat memberikan rasa kepuasan psikologis yang dibutuhkan ibu agar proses menyusui berjalan lancar. Selain itu perawat juga harus dapat memperagakan pengetahuan praktis dalam penatalaksanaan menyusui ( 5, 6 ).
Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian mengenai persepsi ibu tentang ASI eksklusif.

B. Perumusan Masalah
Sekarang ini masih ditemui ibu – ibu yang belum memberikan ASI secara eksklusif pada bayi mereka, masih ada ibu yang memberikan makanan tambahan sebelum bayi berumur 6 bulan. Pada usia ini bayi cukup diberi ASI saja, karena ASI merupakan makanan ideal untuk bayi. ASI mengandung semua zat gizi untuk pertumbuhan dan penyediaan energi, kekebalan, meningkatkan kecerdasan, dan dapat meningkatkan jalinan kasih sayang antara ibu dan bayi. Perilaku yang ditampilkan oleh seseorang dilatarbelakangi oleh berbagai
faktor. Demikian pula dengan perilaku ibu yang menghentikan pemberian ASI eksklusif kepada bayinya juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah kurangnya pemahaman ibu tentang ASI eksklusif.
Selengkapnya 


Read More..

PERBEDAAN PENURUNAN INTENSITAS NYERI SEBELUM DAN SESUDAH DILAKUKAN TEKNIK RELAKSASI NAPAS DALAM PADA KLIEN POST BEDAH MAYOR DI RSUD XXX



BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang

Pembedahan merupakan suatu tindakan pengobatan yang menggunakan cara invasif dengan membuka dan menampilkan bagian tubuh yang akan ditangani. Pembukaan bagian tubuh ini umumnya dilakukan dengan membuat sayatan setelah bagian yang akan ditangani ditampilkan, dilakukan tindakan perbaikan yang diakhiri dengan penutupan dan penjahitan luka (Sjamsuhidayat & Win, 2005). Secara garis besar pembedahan dibedakan menjadi dua yaitu bedah minor dan bedah mayor (Mansjoer, 2000). Bedah mayor adalah tindakan bedah besar yang menggunakan anastesi umum/general anastesi (Mansjoer, 2000), yang merupakan salah satu bentuk dari pembedahan yang sering dilakukan (Sjamsuhidayat & Win, 2005).
 Setiap pembedahan termasuk bedah mayor selalu berhubungan dengan adanya insisi (sayatan) yang merupakan trauma atau kekerasan bagi penderita yang menimbulkan berbagai keluhan dan gejala dimana salah satu keluhan yang sering dikemukakan adalah nyeri (Sjamsuhidayat & Win, 2005).  Hal ini sesuai dengan  hasil penelitian Enie Novieastari yang menyatakan bahwa sebanyak 80% pasien mengeluh nyeri baik nyeri sedang atau nyeri berat pada post bedah. Nyeri setelah pembedahan merupakan hal yang normal, namun meskipun demikian nyeri merupakan salah satu keluhan yang paling ditakuti oleh klien post bedah. Sensasi nyeri mulai terasa sebelum kesadaran klien kembali penuh yang semakin meningkat seiring dengan berkura ngnya pengaruh. Bentuk nyeri yang dialami oleh klien post bedah mayor adalah nyeri akut yang terjadi karena adanya luka insisi bekas pembedahan (Perry & Potter, 2006).
Nyeri akut yang dirasakan oleh klien Post bedah mayor merupakan penyebab stress, Frustasi dan gelisah yang mengakibatkan klien mengalami gangguan tidur, cemas, tidak nafsu makan dan ekspresi tengang (Perry & Potter, 2006). Selain hal itu Nyeri post bedah juga dapat menimbulkan peningkatan laju metabolisme dan curah jantung, kerusakan respon insulin, peningkatan prodiksi kortisol, dan retensi cairan (Brunner & Suddart, 2002). Namun sayangnya belum banyak yang diketahui dan belum dikelola dengan baik, padahal perawat memiliki lebih banyak kesempatan dibandingkan tenaga kesehatan lain untuk membantu menghilangkan nyeri dan efeknya yang membahayakan (Brunner & Suddart, 2002).
Perawat dengan menggunakan pengetahuannya dapat mengatasi masalah nyeri post bedah baik secara mandiri maupun secara kolaboratif dengan menggunakan dua pendekatan yaitu pendekatan farmakologi dan pendekatan non farmakologi. Pendekatan farmakologi merupakan pendekatan kolaborasi antara dokter dengan perawat yang menekankan pada pemberian obat yang mampu menghilangkan sensasi nyeri. Sedangkan pendekatan non farmakologi merupakan pendekatan untuk menghilangkan nyeri dengan menggunakan teknik manajemen nyeri yang meliputi: stimulus dan massage kutaneus, terapi es dan panas, stimulasi syaraf eliktris transkutan, distraksi, imajinasi terbimbing, hipnotis dan teknik relaksasi napas dalam (Brunner & Suddart, 2002).
Teknik relaksasi napas dalam merupakan intervensi mandiri keperawatan dimana perawat mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan napas dalam, napas lambat (menahan inspirasi secara maksimal) dan bagaimana menghembuskan napas secara perlahan. Selain dapat menurunkan intensitas nyeri, teknik relaksasi napas dalam juga dapat meningkatkkan ventilasi paru dan meningkatkan oksigenasi darah (Burnner & Suddart, 2002).
Berdasarkan data kegiatan Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUD Tugurejo Semarang pada bulan januari 2006 di dapatkan data jumlah tindakan medik sebesar 229 kasus dengan kasus bedah mayor sebesar 89 kasus dengan rata-rata 3 kasus perhari. Pada bulan Februari sebesar 207 kasus dimana tindakan bedah mayor sebesar 89 kasus denan rata-rata perhari 4 kasus sedangkan untuk bulan Maret sebeser 228 kasus dimana untuk bedah mayor sebesar 99 kasus dengan rata-rata perhari 4 kasus. Berdasarkan observasi pendahuluan di RSUD  Tugurejo Semarang diketahui bahwa sebagian besar (92%) klien post bedah mayor mengeluh nyeri dan tidak tahu bagaimana cara untuk mengurangi nyeri tersebut (Recam Medik,RSUD Tugurejo Semarang).
Banyaknya jumlah klien yang mengeluh nyeri post bedah mayor di RSUD Tugurejo Semarang disebabkan karena perawat di sana lebih menekankan pada pemberian analgetik dan belum melakukan intervensi keperawatan  yaitu pembelajaran teknik relaksasi napas dalam. Akibatnya, ketika efek analgetik menurun atau hilang maka sensasi nyeri akan dirasakan oleh klien. Padahal teknik relaksasi napas dalam dapat digunakan oleh klien untuk mengontrol nyeri yang ia rasakan. Teknik relaksasi napas dalam dipercaya dapat menurunkan intensitas nyeri, walaupun tingkat keefektifannya masih belum ada angka yang pasti, karena hal inilah maka perlu dilakukan penelitian apakah ada perbedaan penurunan intensitas nyeri yang dirasakan oleh klien post bedah mayor antara sebelum dengan sesudah dilakukan teknik relaksasi napas dalam di RSUD Tugurejo Semarang.

B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, maka dapat dirumuskan pertanyaan penelitian yaitu apakah ada perbedaan penurunan intensitas nyeri sebelum dilakukan teknik relaksasi napas dalam dengan sesudah dilakukan teknik relaksasi napas dalam.

Selengkapnya 




Read More..